More Links

Dhamma itu indah diawalnya, indah dipertengahan, dan indah pula pada akhirnya.

Rabu, 23 Juli 2014

Kemenangan sejati



baru saja kita menghadapi pemilihan presiden dan dari kedua capres tampak sama kuat dan menunjukan kharismanya, menang atau kalau ini bukanlah sebuah kompetisi, ini hanya perbedaan saja, intinya kita adalah satu, demikian makna pidato presiden terpilih Ir.Jokowidodo.
Kemenangan sejati adalah kemenangan akan dirinya sendiri, memenangkan diri sendiri dari ego, amarah, nafsu dan keserakahan, baik tahta dan kekuasaan seperti dalam cerita Raja Ashoka yang merupakan seorang penguasa besar pada masa Buddha Gotama, ketika Buddha Mahaparinibbana( Wafat diperabukan), Raja Ashoka berniat mengagungkan Buddha dengan berbagai caranya, beliau membuat kerajannya harus mengagungkan Buddha, namun ada sebagian orang yang tidak senang dengan cara Raja Ashoka, tetapi mereka adalah orang-orang lemah, minoritas,yang takut akan kekuasaan besar Raja Ashoka..
Raja Ashoka tidak menindas mereka, tetapi orang-orang bawahannya yang seolah menyulut ketegangan, mereka menangkapi dan memenjarakan selain penganut Buddha, sehingga kaum minoritas berniat membalas terhadap keluarga Raja Ashoka tersebut.
Kaum minoritas karena tidak berani melampiaskan kepada sang Raja Ashoka yang ahli dalam segala peperangan, mengancam Putranya yang masih 5 tahun, maka dicelakailah Pangeran muda yang tidak tau apa-apa itu, sehingga kedua matanya menjadi buta.
Raja Ashoka sangat marah, ia memerintahkan untuk memenggal seluruh penganut yang menentangnya, tanpa ampun,dan memberi hadiah bagi yang membawa kepala penganut lain. kondisi mencekam terjadi dikerajaan itu, masa kegelapan pun terjadi...Akhirnya seorang Biksu yang tak lain adalah Adik Raja Ashoka sendiri melihat kondisi yang mengenaskan dikepemimpinan kakaknya, ia memutuskan seseorang untuk membawa kepalanya, karena hanya kepalanya yang bisa menghentikan keganasan sang Kakak..
Ashoka terkejut ketika kepala adiknya sendiri yang menjadi Biksu menjadi korban keganasannya sendiri, ia menangisi adiknya namun sudah terlambat, akhirnya tercerahkan setelah melihat kondisi itu, ia menanggalkan pedangnya, ia melilitkan jubahnya dan mengganti dengan pakaian seorang Biksu, ia mencetuskan sebuah pilar dengan yang terkenal dengan Pilar ashoka  yang isinya adalah :

"Janganlah kita menghormat agama kita sendiri dengan mencela agama orang lain. Sebaliknya agama orang lain hendaknya dihormat atas dasar tertentu. Dengan berbuat begini kita membantu agama kita sendiri untuk berkembang disamping menguntungkan pula agama lain. Dengan berbuat sebaliknya kita akan merugikan agama kita sendiri di samping merugikan agama orang lain.

Oleh karena itu, barang siapa menghormat agamanya sendiri dengan mencela agama lain, semata-mata karena dorongan rasa bakti kepada agamanya dengan berpikir bagaimana aku dapat memuliakan agamaku sendiri, maka dengan berbuat demikian ia malah amat merugikan agamanya sendiri. Oleh karena itu toleransi dan kerukunan beragamalah yang dianjurkan dengan pengertian, bahwa semua orang selain mendengarkan ajaran agamanya sendiri juga bersedia untuk mendengarkan ajaran agama yang dianut orang lain."

ya, kemenangan sejati, memenangkan ribuan perang tidaklah membanggakan, tetapi memenangkan diri sendiri adalah kemenangan sejati, kemenangan pada diri sendiri.
namaste _/\_semoga damai selalu dinegri ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar